Cianjur – Sejumlah petani milenial di Kecamatan Cikadu Kabupaten Cianjur, Jawa Barat dalam beberapa hari ke depan akan segera panen jagung. Mereka akan menceritakan langsung suka dukanya menjadi bagian dari program populis Gubernur Jabar Ridwan Kamil.

Di Desa Mekarlaksana Kecamatan Cikadu, Cianjur, ada empat orang yang berhasil lolos seleksi Petani Milenial. Dua orang menggarap lahan yang disediakan Pemprov Jawa Barat, dua orang lagi menggarap lahan sendiri.

Camat Cikadu Yadi Supriadi menjelaskan total lahan yang disediakan Pemprov untuk program Petani Milenial di Cikadu mencapai 6 hektar. Dua hektar ditanami jagung dan empat hektar akan ditanami ubi.

“Yang Jagung sudah berjalan digarap dua orang dan 10 Juni nanti akan panen, dihadiri langsung Gubernur Ridwan Kamil. Kalau yang ubi, lahannya masih diolah. Luasnya 4 hektare, nanti akan digarap 20 petani yang masuk program Petani Milineal,” katanya dihubungi detikcom, Senin (31/5/2021).

Adul Majid (34), menjadi salahsatu petani milenial yang menggarap lahan Pemprov Jabar. Ia mengaku mendaftar program petani milenial awal Februari 2021. Petani yang juga bekerja di Balai Pertanian Provinsi di Kecamatan Cikadu ini kemudian lolos persyaratan dan berhasil tergabung dalam program tersebut.

“Kebetulan saya dan satu rekan saya mendapat fasilitas lahan seluas masing-masing 1 hektar. Jadi total ada 2 hektar lahan Pemprov yang saat ini sudah digarap,” tuturnya, Senin (31/5/2021).

Adul mengatakan lahan itupun ia tanami jagung. Ia mengaku mendapat bantuan modal dari BJB. Sayangnya, kata dia, proses pencairan permodalan tersebut memakan waktu hingga satu bulan.

“Permodalan dipermudah, tapi proses pengecekan ke lapangan hingga pencairannya lama. Jadi di satu sisi kita dikejar waktu tanam, tapi modal tak kunjung turun. Sedangkan kalau telat momen, hasil produksi tanamannya akan kurang bagus,” ucap Adul.

Menurut Adul, untuk lahan seluas 1 hektar dengan program tanam jagung, modal yang diberikan awalnya mencapai Rp 17 juta. Dengan modal tersebut, petani milenial harus membayarnya dengan memberikan hasil panennya sebanyak 5 ton.

Ketentuan itu, kata dia, memberatkan ia dan teman-temannya. “Setelah kita ajukan keberatan, kemudian baru diberi subsidi berupa benih, dan beberapa kebutuhan lainnya. Sehingga pinjaman modal hanya jadi Rp 14 juta dan target pengembalian hanya 4,5 ton jagung,” ungkapnya.

Ia mengaku tidak mendapatkan pelatihan atau pembinaan khusus di awal sebelum proses tanam. “Tidak ada pelatihan khusus kang sebelumnya,” ucap dia.

Menurutnya pendampingan di lapangan tidak maksimal. Hanya tim pendamping dari dinas untuk penanganan hama yang kerap turun ke lapangan. Sedangkan tim khusus dari program petani milenial hanya berkomunikasi melalui pesan singkat.

“Kalau dari balai selalu komunikasi di lapangan, tapi kalau tim dari program jarang. Komunikasinya lewat pesan singkat, itupun bukan bidangnya. Karena pernah konsul tapi dia tidak tahu harus bagaimana. Jadi kembali mengandalkan pengetahuan saat bertani saja,” katanya.

Soal teknologi pertanian, Adul menyatakan tidak seperti yang dikampanyekan selama ini. Ia mengaku proses penanaman jagung masih manual. “Belum, belum pakai sistem komputerisasi. Masih serba manual. Tapi memang alat infus untuk pengairan cukup membantu, apalagi jika masuk musim kemarau. Lebih menghemat air,” ungkap Adul.

Menurut Adul, 400 alat infus yang digunakannya, dengan hitungan dalam satu parit terdapat tiga alat infus. Totalnya ada 500 parit yang dibuat untuk satu hektar lahan.

“Kalau semuanya pakai metode infus, bisa sampai ribuan alat. Tapi saya pribadi sambil uji coba, ada yang pakai alat infus, ada yang pakai spingler yang bisa menyemburkan air dengan jarak 14 meter, dan satu lagi secara alami tanpa alat. Itu saya lakukan untuk melihat mana yang bagus” ungkapnya.

“Jadi kalau yang alat infus, sekitar 400 alat,” sambung dia.

Menurut Adul dari penampakan ukuran bongolnya tanaman jagung yang disiram dengan metode spingler bongolnya terlihat lebih besar.

“Kalau secara kasat mata, lebih efektif yang pakai spingler dibandingkan yang metode infus. Karena jagung itu kan tidak butuh banyak air,” kata dia.

Menurutnya teknologi tiap jenis tanaman memang beda, harus tepat guna. “Kalau infus itu efektif di sayuran. Jadi bagusnya lebih tepat guna saja teknologinya. Disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis tanaman,” kata dia.

Sementara untuk pemberian pupuk dan penyemprotan cairan pembasmi hama semua masih dilakukan secara manual, termasuk untuk penanaman benih pun harus diukur dan ditanam manual. Jadi sebenarnya hampir bisa dikatakan tidak ada bedanya dengan petani konvensional.

“Minimalnya ada alat khusus yang mempermudah petani milenial. Tapi tidak ada, hanya alat infus aja teknologi yang digunakan, itupun masih manual. Padahal banyak teknologi pertanian untuk penanaman benih hingga pemberian pupuk,” tuturnya.

Untuk masa tanam, lanjut dia, metode biasa dan teknologi yang diberikan pemerintah tidak ada perbedaan. “Sama saja, tiga bulan penanaman. Kecuali memang teknologinya ditambah, mungkin bisa lebih cepat,” kata dia.

Rencananya Adul dan rekannya akan memanen jagung 10 Juni 2021 mendatang. “Kami berharap bisa maksimal hasilnya, untuk menutup target yang ada dan agar petani ada lebih. Karena pendapatan para petani kan hasil lebih, sebab yang 4,5 ton sudah pasti disetorkan untuk pengganti dana pinjaman,” tuturnya.

Berdasarkan pengalaman, kata dia, minimal 1 hektare bisa menghasilkan 5 hingga 7 ton jagung.

Sementara itu Lanlan Kusnaedi (26), petani milenial lainnya yang juga menggarap lahan milik Pemprov, mengaku sedang harap-harap cemas dengan hasil produksi jagungnya.

“Kalau penanamannya sukses dan bisa dipanen, tapi jika lihat dari ukuran bongolnya kecil-kecil. Jadi ini juga berharap bisa tercapai target, kalau tidak bahaya. Sebab permodalan dari bank tetap harus dibayar,” ungkapnya.

Dia berharap, Pemprov bisa memberikan fasilitas yang sesuai, sehingga para petani yang diklaim sebagai petani milenial tidak terbebani.

“Kalau sekarang kan fasilitasnya minim, tapi tanggungjawab besar harus mengembalikan modal yang diberikan. Jadi kalau itung-itungan lebih baik bertani di lahan sendiri tanpa program. Teknologi yang diberikan juga seadanya,” pungkasnya.

By admin

Leave a Reply